• May 18, 2026
  • 2 min read

Anatomi Sebuah Skor Risiko: Bagaimana GiziFin Menilai SPPG

Angka skor risiko yang berdiri sendiri, tanpa penjelasan, sebenarnya tidak banyak membantu petugas pengawas. Skor 82 dari 100 itu bisa berarti apa saja. Mungkin harga bahan baku yang janggal, mungkin volume porsi yang tidak sesuai laporan, atau kombinasi keduanya. Salah satu keputusan desain utama GiziFin lahir dari masalah ini: mulai dari rule engine yang transparan dulu, bukan langsung loncat ke model black-box yang susah dipertanggungjawabkan.

Bukan sekadar nominal transaksi

Menilai kewajaran transaksi hanya dari besarnya nominal itu pendekatan yang rapuh. Nilai belanja yang wajar untuk satu SPPG di kota besar bisa terlihat mencurigakan untuk SPPG di daerah lain yang struktur harganya beda. Makanya anomali harga di GiziFin selalu mempertimbangkan konteks, mulai dari jenis komoditas, satuan, tanggal transaksi, sampai wilayah. Semuanya dibandingkan terhadap benchmark harga regional, bukan angka rata-rata nasional yang menyamaratakan semua daerah.

Dari mana skor risiko disusun

Berdasarkan arah desain produk, skor risiko SPPG disusun dari beberapa lapis sinyal yang saling melengkapi. Yang pertama adalah perbandingan harga terhadap benchmark daerah, untuk mendeteksi indikasi mark-up harga bahan baku. Lalu ada kewajaran volume, membandingkan klaim porsi dengan laporan harian dan bukti distribusi.

Selain dua hal itu, ada juga pola aktivitas SPPG dari waktu ke waktu, yang menyoroti SPPG tidak aktif atau menunjukkan pola transaksi tidak wajar. Dan terakhir, dana idle: membedakan saldo yang mengendap tanpa transaksi keluar dari saldo operasional yang memang wajar.

Pada roadmap pengembangan, lapisan-lapisan sinyal ini rencananya diperkuat dengan model anomaly detection seperti Isolation Forest. Model ini akan dijalankan dalam mode shadow dulu, artinya boleh menghasilkan skor, tapi hasilnya belum dijadikan dasar keputusan sampai kualitasnya benar-benar terukur dan tervalidasi.

Kenapa reason code penting

Setiap skor risiko idealnya disertai penjelasan yang bisa ditelusuri, bukan hanya angka telanjang. Ini bukan cuma soal kenyamanan petugas, tapi soal akuntabilitas. Ketika sebuah keputusan menahan atau melanjutkan top-up dana publik diambil, harus ada jejak yang jelas soal sinyal apa yang memicu skor tersebut, dan kenapa.

Prinsip yang sama juga berlaku di level yang lebih luas: setiap perubahan status alert dirancang untuk tercatat dalam audit trail yang bisa ditelusuri, dari alert pertama kali muncul, ditinjau, sampai kasusnya ditutup. Skor risiko sendiri sebenarnya cuma titik awal triase. Keputusan akhirnya tetap di tangan petugas yang meninjau bukti di baliknya.